Tag Archives: Arsitek

Membangun Perpustakaan dan Kampung

Bukan hanya mendesain mal, gedung bertingkat, atau rumah mewah yang perlu keahlian arsitek. Rumah warga di pinggir sungai pun perlu “dimanusiakan” dengan sentuhan arsitek. Hal itu dilakukan Rujak Center for Urban Studies, yang didirikan arsitek Marco Kusumawijaya. Mereka ingin mengajak para arsitek memberi solusi permukiman kota untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Salah satu caranya dengan mengadakan sayembara penataan pemukiman pinggir Kali Surabaya.

Dalam presentasi yang digelar di Universitas Pelita Harapan, Jakarta, Jumat dua pekan silam itu, para peserta-arsitek dan biro arsitek kenamaan, seperti Han Awal, Adi Purnomo, Urbane, serta Eko Prawoto-memaparkan beragam ide. Ada desain kampung vertikal, semipermanen, dan rumah panggung. Pemenangnya adalah arsitek dari Universitas Parahyangan, Bandung, Wiyoga Urdiansyah. Konsepnya adalah rumah panggung yang seragam bila tampak muka, dengan menggunakan beton fabrikasi.

Tidak hanya Marco bersama Rujak, arsitek Yandi Andri Yatmo melalui kegiatan “Space for the Community” sudah meninggalkan jejak panjang dalam “berarsitektur prorakyat”. Menurut dia, karya arsitektur harus memberi manfaat bagi rakyat. “Untuk itu, arsitek harus duduk sejajar dengan warga,” katanya kepada Tempo, Selasa pekan lalu.

Kegiatan yang ia rintis bersama sang istri, Paramita Atmodiwirjo-arsitek juga-pada 2007 awalnya hanya sebuah eksperimen. “Saya ingin tahu apa yang arsitek bisa berikan langsung kepada masyarakat,” kata Yandi. Ia memulai dengan merenovasi perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 08 Pancoran, Jakarta. Perpustakaan sekolah itu hancur akibat banjir. Tidak terawat dan hanya berfungsi menjadi gudang, tak ada satu pun murid yang mau memasukinya.

Bersama para mahasiswa Jurusan Arsitektur dan Perpustakaan Universitas Indonesia, Yandi mencoba mencari solusi. Awalnya, ia menggelar workshop bagi para murid untuk mengidentifikasi keinginan bentuk perpustakaan. Proses ini, menurut Mita-yang sangat menarik karena memancing imajinasi anak-anak-tidak mudah. “Mereka mengatakan perpustakaan itu ‘gudang ilmu’ karena terbiasa melihat bentuknya seperti gudang,” kata Mita sambil tertawa.

Para murid memakai media gambar, maket, dan mind mapping untuk melukiskan perpustakaan yang diinginkan. Tidak sebatas pada bentuk perpustakaan, mereka juga mengidentifikasi kebutuhan buku dan kegiatan yang berlangsung dalam perpustakaan. Setelah workshop, Yandi bersama timnya mencoba membuat desain sesuai dengan identifikasi tersebut. Setelah desain disetujui pihak sekolah dan murid, tahap selanjutnya adalah konstruksi.

Hasilnya, perpustakaan itu sekarang tampak lebih berwarna dan terang, dengan hiasan semarak, seperti gambar cap tangan para murid serta rumah-rumah lampu kertas pada langit-langit. Salah satu bagian lantai ruangan yang rusak telah diperbaiki dan ditinggikan supaya dapat dijadikan area duduk bagi anak-anak.

Dari proyek awal tersebut, kegiatan “Space for the Community” berkembang ke perbaikan perpustakaan sekolah dasar lain di Jakarta. Perbaikan lingkungan dan pembangunan tempat berkumpul warga pun dikerjakan hingga ke wilayah Ngargorejo, Jawa Tengah.

Yandi bukan tanpa alasan memilih perbaikan perpustakaan sebagai uji coba. Menurut arsitek yang meraih gelar sarjana hingga doktoral di Universitas Sheffield, Inggris, itu, pendidikan merupakan awal untuk memperbaiki kualitas hidup seseorang. “Dan perpustakaan adalah the heart of the school,” kata arsitek yang juga dosen di Universitas Indonesia tersebut.

Karena itu, perpustakaan tidak bisa hanya berisi buku, rak, meja, dan kursi. Ia harus memiliki elemen tertentu agar bisa menarik anak-anak masuk ke dalamnya dan membaca. Proyek “Space for the Community” di Sekolah Dasar Negeri 01 Pagi Cilandak Barat, Jakarta, berhasil memancing rasa ingin tahu para murid dengan menampilkan perpustakaan bertema “Rimba Ilmu”.

Ketika masuk, murid akan melihat mural beraneka jenis binatang yang mengelilingi perpustakaan. Setiap binatang menyampaikan pesan. Misalnya, ular mengatakan sering berjemur di bawah matahari bagus untuk menghangatkan tubuh dan melancarkan pencernaan. Kupu-kupu memiliki 12 ribu mata. Kura-kura menggigit bukan dengan gigi, melainkan lewat pengerasan tulang.

“Semua tulisan di dinding diperoleh anak-anak dari buku-buku di perpustakaan ini,” ujar Yandi. Nama “Rimba Ilmu” pun hasil dari diskusi dan workshop dengan para murid. Mereka menginginkan unsur binatang dan alam masuk dalam ruangan seluas 56 meter persegi itu. Tidak mengherankan, ketika masuk, murid akan disambut dengan hiasan sarang laba-laba, burung-burung kertas di langit-langit. Binatang pada mural pun tidak sebatas darat, langit, dan laut. Ia terbagi menjadi binatang yang aktif ketika ada dan tidak ada sinar matahari.

Metode serupa Yandi lakukan untuk membangun atau memperbaiki lingkungan tempat tinggal warga. Ia melihat tempat berkumpul sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sayangnya, hal ini berangsur-angsur berkurang di lingkungan masyarakat menengah perkotaan. Tapi di area tempat tinggal masyarakat miskin, kebutuhan tempat berkumpul itu signifikan karena minimnya tempat bagi mereka bersosialisasi.

Yandi memilih lokasi di perkampungan kumuh Jatinegara, Jakarta Timur, sebagai salah satu proyeknya. Di kampung itu banyak ditemukan beberapa tempat berkumpul warga untuk menonton televisi, kongko, dan bermain. Sayangnya, banyak yang kondisinya tidak layak.

Bersama para mahasiswa, Yandi berusaha memfasilitasi keinginan para warga membuat tempat berkumpul baru yang lebih nyaman. Pemilihan lokasi biasanya menjadi isu penting bagi warga, dibanding mengidentifikasi kebutuhan. Karena itu, perlu penjelasan yang baik soal desain yang bagus dan bermanfaat oleh para fasilitator.

Ketika masuk pada tahap konstruksi, warga pun terlibat di dalamnya. Mereka memakai material yang sudah ada di lingkungan sekitar. Tidak menggunakan jasa buruh atau tukang karena semua dikerjakan warga. Ongkos produksi pun kecil, meskipun Yandi mengakui sebagian masih memakai dana dari sponsor.

Yandi, yang mendapatkan gelar profesi arsitek dari Royal Institute of British Architect, mengaku banyak belajar dari proses ini ketimbang mendesain bangunan secara komersial. “Selalu ada hal baru dari masyarakat,” ujarnya. Bahkan, menurut dia, masyarakat sebenarnya memiliki jawaban atas setiap masalah yang terjadi di lingkungannya. Namun mereka terkadang tidak terlayani dengan baik. Di sinilah peran arsitek diperlukan untuk menjembatani masyarakat dengan kebutuhannya.

Inisiatif serupa muncul di Solo, Jawa Tengah. Arsitek asal Bandung, Yu Sing, membentuk komunitas “Kampung Kita” pada awal tahun ini. Yang terlibat di dalamnya adalah para arsitek dan 17 institusi kampus. Ide awal komunitas ini adalah membuat dokumentasi kampung-kampung. Kemudian Wali Kota Solo Joko Widodo meminta kegiatannya diperluas menjadi perbaikan kampung.

Yu Sing bersama para mahasiswa, sebagai fasilitator, masuk ke beberapa kampung, salah satunya Kampung Blangkon. Mereka membantu para warga mengembangkan desain blangkon supaya dapat membuat kampung lebih mandiri dan sejahtera. “Kami juga sedang mencoba menggarap salah satu kampung di Solo menjadi kampung wisata,” ujar arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung itu.

Persinggungannya dengan peran komunitas dalam arsitektur ini tidak lepas dari inisiatifnya mengembangkan desain rumah murah. Dari desain itu, Yu Sing kemudian mulai tertarik oleh isu perkampungan. “Persoalannya bukan kumuh, tapi sebagian besar masyarakat miskin tidak terlayani dengan baik,” ujarnya.

Kegiatan “Kampung Kita” mulai tersebar di beberapa kota di Jawa. Yu Sing berharap, dengan melibatkan universitas, kegiatan ini bisa berkembang hingga ke seluruh Indonesia.

Sumber: tempointeraktif.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan