Pustakawan Wonogiri Tolak Guru Mengelola Perpustakaan

WONOGIRI, Pustakwan Wonogiri, menolak Peraturan Pemerintah (PP) Nomor: 74 tahun 2008, tentang guru dan kepala sekolah (Kasek) bersertifikasi yang diberi tugas tambahan sebagai Kepala Perpustakaan Sekolah (Perpusek). Sebab, itu dinilai tidak kompeten dan hanya akan meminggirkan para pustakawan fungsional yang profesional.

”Kami menolak, sebab itu hanya akan menguntungkan bagi para guru dan Kasek yang tidak memiliki kompentensi di bidang pengelolaan perpustakaan,” tegas Pustawakan Endang, ketika menyampaikan pendapatnya dalam seminar nasional membahas PP Nomor: 74 tahun 2008.

Seminar yang digelar di pendapa Kabupaten Wonogiri, Senin (29/10), dibuka oleh Kepala Kantor Arsip Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Wonogiri, Suradi SPd MPd. Menampilkan nara sumber Kabid Pengembangan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Nurcahyono SS MSi, dan Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Perpustakaan Provinsi Jateng Drs Mulyono MPd.

Kata Endang, seseorang untuk menjadikan dirinya memiliki kompetensi sebagai pustakawan profesional pengelola perpustakaan, harus menjalani pendidikan dan pelatihan dalam tempo yang tidak singkat. Karena itu, ketika sekarang tiba-tiba para guru dan Kasek diberi tambahan sebagai pengelola perpustakaan sekolah, rasanya itu sebagai langkah yang tidak profesional. Mengingat guru dan Kasek tidak memiliki kompetensi dalam bidang pengelolaan perpustakaan.

Astuti, guru SD Platarejo Kecamatan Giriwoyo Wonogiri, mengatakan, memang keseharian dirinya ditugasi untuk mengelola perpustakaan sekolah. ”Gedung perpustakaan sekolah memang telah dibangun baru, sarana rak bukunya pun baru. Tapi sampai sekarang, isi bukunya belum ada. Meski pernah dianggarkan bantuan Rp 10 juta,” tutur Astuti.

Kepala UPT Perpustakaan Jateng, Mulyono, menyatakan, kemunculan PP Nomor: 74 tahun 2008, itu terkesan sebagai keputusan pemerintah yang emosional. Semata-mata itu sebagai solusi untuk menyikapi para guru bersertifikasi yang jam mengajarnya kurang dari 24 jam. Untuk memenuhi agar memenuhi ketentuan minimal 24 jam mengajar, seorang guru dan Kasek dapat mengelola perpustakaan sekolah.

Kata Mulyono, kebijakan ini telah mendolimi para pustakawan fungsional yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan perpustakaan. ”Ini kiranya dapat dijadikan rekomendasi hasil seminar untuk kemudian disampaikan ke pemerintah pusat, agar keberadaan PP Nomor: 74 tahun 2008, dapat ditinjau kembali,” tegas Mulyono.

Pendapat agar keberadaan PP tersebut ditinjau ulang, juga disampaikan Kabid Pengembangan Perpusnas, Nurcahyono. Sebab bila itu dipaksakan untuk dilaksanakan, akan banyak mengalami kendala dan kontradiktif dengan peraturan perundangan yang berposisi lebih atas. Yakni tentang Undang-Undang (UU) Nomor: 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan nasional.

Di sisi lain, tandas Nurcahoyono, amanah PP yang menyebutkan sekadar tugas tambahan, itu akan melahirkan pengelolaan yang tidak profesional. Kelak, imbuhnya, akan banyak Kasek yang hanya mengejar Surat Keputusan (SK) sebagai pihak yang berstatus pengelola perpustakaan, hanya demi agar tunjangan sertifikasinya tidak hilang.

”Ironisnya, tugas pengelolaan perpustakaannya tidak pernah dilakukan, karena cukup diserahkan kepada anak buahnya,” tuturnya.

Sumber: suaramerdeka.com

About these ads

11 Comments

Filed under Pustakawan

11 responses to “Pustakawan Wonogiri Tolak Guru Mengelola Perpustakaan

  1. nur rakhmi ardiyantini

    setuju banget dengan penolakan ini,kapan perpustakaan sekolah mencapai visi misinya kalau tidak dikelola secara profesional,kan sudah banyak tenaga pustakawan sekarang ini yang belum mendapat tempat untuk mengamalkan ilmunya

  2. nur rakhmi ardiyantini

    setuju sekali dengan penolakan ini,bagaimana perpustakaan akan mencapai visi dan misinya bila tidak dikelola dengan profesional,sekarang sudah banyak tenaga pustakawan yang belum mendapat tempat untuk mengamalkan ilmunya

  3. jekek

    saya sangat setuju sekali, seharusnya pemerintah tidak memandang sebelah mata pada kita tenaga perpustakaan se kab. Wonogiri… seharusnya kita diberikan kesempatan, sarana, dan kepercayaan untuk ikut serta memajukan pendidikan Kab. Wonogiri.

  4. metrik.com

    Semangat – semangat – semangan Tenaga PErpustakaan Wonogiri.. Kapan ya kita tidak dipandang sebelah Mata…….

  5. bejo

    ini nampaknya harus ada kebijakan dari pemerintah khususnya di Wonogiri, bahwa perpustakaan sangat berperan penting dalam memajukan pendidikan Nasional, jadi……. kami mohon dengan hormat perhatikanlah para Tenaga perpustakan di Kab. Wonogiri yang rata-rata lulusan Universitas Terbuka (FISIP)… Matur sembah nuwun.

  6. kucingku

    Saya adalah pustakawan Wonogiri yang menyatakan menolak PP 74 tahun 2008 dan Permendiknas 25 Tahun 2008 itu…. karena saya ingin mengangkat profesi pustakawan Indonesia yang sampai saat ini belum sepenuhnya memperoleh hak-haknya sesuai Undang-Undang,Perpustakaan yang telah syah dan ditandatangani presiden, ,

    Adanya perlakuan tidak adil terhadap sesama pengemban jenis pekerjaan profesi di lembaga Pendidikan

    saya mengangkat permasalahan ini karena terlalu banyak kasus yng berawal dari pembiaran kesalahan para pejabat birokrsi yang membuat kebijakan tidak mengacu pada prosedur perundangan yang berlaku, ,saya mempertahankan Undang-Undang Perpustakaan sebagai payung hukum para pejabat fungsional pustakawan

    Penegakan aturan agar Undang Undang tidak dikalahkan oleh peraturan peraturan yang berada pada tingkat perundangan yang lebih rendah tingkatannya ( produk perundangan turunan ) setahu saya prosedur hukum tidak boleh bertentangan dengn prosedur hukum yang lebih tinggi tingkatannya

    Saya ingin menjunjung tinggi relevansi agar jabatan sesuai kompentensi dan profesional agar semua berjlan sesuai tugas pokok fungsi wewenang masing masing, ibarat sawah diladangnya sendiri sendiri., karena hasil ( out put ) pekerjaan akan lebih maximl bila dikerjakan oleh ahlinya..

  7. Bernadetta Endang Sudrti Respatiningsih ,SIP

    Saya Pustakawan yang menolak PP 74 tahun 2008 dn Permendiknas Tahun 2008 dengan harapan Pustakawan dipandang keberadaannya ,,kesesuaian formasi dengan jenis pekerjaan berdasarkan kompentensi dan profesionalitas sehingga output yang maximal selain itu untuk memperkecil pengeluaran anggaran negara. ( evisiensi, evektifits, relevansi )….. Semangat teman temanku pustakawan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s