Monthly Archives: December 2011

Tujuh Desa di Sambas Kalimantan Barat, Terima Bantuan Perpusdes

SAMBAS – Tujuh desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Sambas menerima bantuan buku perpustakaan desa. Sebanyak tujuh ribu eksemplar atau 350 judul buku plus rak buku dibagikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat melalui Badan Perpustakaan Kearsipan dan Dokumentasi Kalbar. Tujuh desa tersebut di antaranya Desa Bentunai di Kecamatan Selakau, Desa Pemangkat Kota (Pemangkat), Desa Sepadu (Semparuk), Desa Pangkalan Kongsi (Tebas), Desa Sekura (Teluk Keramat), Desa Tengguli (Sajad), dan Desa Balai Gemuruh (Subah).

Penyerahan bantuan itu diserahkan langsung Kepala UPT Perpustakaan Provinsi Kalbar, Untad Darmawan, kepada penerima bantuan, dengan disaksikan Kepala Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sambas Abdul Manan, serta para camat lingkungan desa penerima bantuan di Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sambas, Kamis (29/12) lalu.  Disebutkan Untad dalam sambutannya, program bantuan untuk perpustakaan desa (perpusdes) ini memiliki harapan yang besar bagi kemajuan dan kecerdasan bangsa. Kata dia, Gubernur Kalbar menginginkan agar masyarakat Kalbar mampu bersaing dengan masyarakat luar Kalbar. “Di Kalimantan, Kalbar terburuk minat bacanya,” keluh dia.

Kembali diungkapkan Untad bahwa provinsi ini berada pada posisi 28 dari seluruh provinsi di Indonesia dalam minat membaca. Untuk tingkat Asia, Indonesia sendiri berada pada tingkat paling bawah. “Karenanya, program bantuan ini digulirkan Pemerintah Provinsi, supaya ada perbaikan minat baca masyarakat Kalbar khususnya,” terang dia. Diakui dia, keterbatasan dana masih menjadi permasalahan tersendiri. Pemprov, diakui Untad, baru mampu mengalokasikan beberapa desa saja sebagai penerima bantuan buku. “Target Pemerintah Provinsi seluruh desa di Kalbar memiliki perpustakaan desa, sementara ini karena keterbatasan dana, Pemprov menjadikan daerah perbatasan sebagai sasaran prioritas, agar akses informasi mereka lebih terbuka lagi,” ungkap dia.

Untad meminta agar Pemkab Sambas hingga pemerintahan desa mendukung program peningkatan minat baca dan perpustakaan desa. Kepala Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sambas Abdul Manan dalam pengantar sambutannya mengungkapkan terimakasih kepada Pemprov Kalbar. “Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalbar atas bantuan buku dan rak buku guna menunjang memasyarakatnya perpustakaan di desa,” ujar dia.

Diakui dia, upaya dan program ini sebagai bentuk stimulan dan penyuksesan gerakan Sambas Membaca. Bersama stafnya, Manan siap mengawal program tersebut. “Kami siap mendampingi, saya bersama staf siap memberikan bantuan jika diperlukan pengelola perpustakaan desa,” tutur dia. Manan menegaskan agar bantuan tersebut dipergunakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bergulirnya bantuan itu, menurut dia, sebagai langkah serius Pemprov mencerdaskan masyarakat. “Jangan sampai waktu peninjauan dari Pemda Kabupaten maupun provinsi, buku masih di dalam kotak,” ingat dia.

Sumber: www.pontianakpost.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan, Pustaka

Preservasi: Klo Perpustakaan Indonesia Punya Mesin Ini, Bisa Scan 3.000 halaman/jam

Leave a comment

29/12/2011 · 1:41 AM

Warga Pedesaan Indramyu Dapat Bantuan Perpustakaan

INDRAMAYU: Pemerintah Provinsi Jawa Barat membantu Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk terus mengembangkan wilayah pedesaan di kabupaten itu. Salah satu caranya lewat pembangunan perpustaan desa (pusdes).

Sedikitnya 28 desa di Indramayu bakal segera mendapat bantuan sarana dan prasarana fasilitas program baca pusdes dan kearsipan. Bantuan itu mulai dari meja, rak buku, sampai dengan beragam buku bacaan, termasuk buku-buku ilmu pengetahuan. Berikut di dalamnya papan data pojok informasi.

Hal itu diutarakan Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Indramayu Drs HA Mujahid, SPd, MSi, ketika dikonfirmasi Suara Karya baru-baru ini di halaman Pendopo Raden Bagus Arya Wiralodra Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Seiring dengan bantuan pusdes itu, Mujahid mengharapkan warga pedesaan Indramayu dapat memanfaatkan pusdes sebaik mungkin untuk menimba pengetahuan lewat kebiasan membaca.

Kebiasaan membaca ini diharapkan dapat mendukung upaya mewujudkan visi Indramayu Remaja (religius, maju, mandiri, dan sejahtera). “Di dalam visi itu ada kata maju, yaitu agar warga Indramayu bisa cerdas dan terdidik. Lewat pusdes ini, kami harapkan SDM di pedesaan meningkat,” kata Mujahid.

Terkait dengan pengembangan pusdes itu, Mujahid, yang mantan Kepala Bagian Agama dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Pemkab Indramayu, belum lama ini mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) tenaga ahli perpustakaan di Jakarta.

“Dengan mengikuti diklat tenaga ahli perpustakaan ini, maka Pemprov Jabar memberi kepercayaan kepada Indramayu untuk mengembangkan perpustakaan desa,” kata Mujahid.

Sumber: www.suarakarya-online.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan, Pustaka

Keren… Ada Taman Bacaan di Terminal Tegal

TEGAL – Pemerintah Kota Tegal, Jawa Tengah, mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Terminal Induk Tegal. Langkah ini sebagai salah satu upaya meningkatkan gerakan gemar membaca serta menambah ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Continue reading

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Buku di Perpustakaan Kota Malang Banyak yang Hilang

Anggota DPRD Kota Malang, Jawa Timur, minta pengamanan di lingkungan perpustakaan daerah itu diperketat karena banyak buku koleksi perpustakaan tersebut hilang.

Wakil Ketua DPRD Kota Malang Priyatmoko Oetomo, di Malang, Selasa (27/12) mengatakan pola pengamanan setiap pengunjung harus ditingkatkan, bila perlu setiap sudut ruangan dipasang CCTV (circuit closed television).

“Dengan dipasangnya CCTV di setiap sudut ruangan terutama di ruang peminjaman buku akan membatasi ruang gerak peminjam buku yang berniat jahat. Paling tidak meminimalkan jumlah buku yang hilang,” tegasnya.

Karena itu, katanya, dalam APBD 2012, pengajuan anggaran perpustakaan sebesar Rp1 miliar langsung disetujui, sebab selain untuk menambah koleksi buku sebagai pengganti yang hilang, juga untuk meningkatkan pengelolaan pengamanan.

Sebagai daerah yang menyandang predikat kota pendidikan, lanjutnya, kondisi perpustakaan memang harus representatif dan memiliki koleksi buku yang lengkap. Bahkan, jika memungkinkan ada layanan online, agar masyarakat lebih mudah dalam mengakses ilmu serta pengetahuan dari perpustakaan.

“Layanan terhadap masyarakat untuk menyerap ilmu dan pengetahuan dari perpustakaan ini harus maksimal. Tidak hanya koleksi bukunya saja yang harus lengkap, tapi tingkat mengamanan dan kenyamanan juga harus maksimal,” kata politisi dari PDIP tersebut.

Sementara Kepala Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang Muyono mengaku, sedikitnya ada 3000 eksemplar buku yang tidak layak karena rusak, baik karena dicorat-coret peminjam, sampul bukunya yang rusak atau halaman bukunya yang hilang.

Tahun depan, katanya, ditargetkan ada tambahan koleksi buku minimal 2.500 eksemplar, namun bukunya yang benar-benar berkualitas pilihan, agar lebih awet.

Sumber: mediaindonesia.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan, Pustaka

Perpustakaan Keliling Harusnya Juga ke Pelosok Kampung

SERPONG  – Guna menyukseskan masyarakat gemar membaca di wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) jajaran pemkot setempat kini menyediakan perpustakaan keliling (Psuling) di sejumlah pusat perbelajaan di kawasan Serpong. Warga berharap tak hanya di kawasan perbelanjaan atau perkotaan saja tapi hendaknya ke sejumlah pelosok kampung.

“Seharusnya Pusling itu ada di tempat terpencil yang jauh dari jangkau sejumlah toko buku atau perbelanjaan,” kata Ny. Erna, warga Serpong, Senin (26/12) menanggapi adanya Pusling di pusat perbelanjaan.

Lokasi yang jauh dari keramaian malah sangat membantu warga tak mampu untuk belajar atau membaca di Pusling tersebut. Lokasinya memang terserah petugas Pusling itu sendiri baik di kantor kelurahan, pinggir jalan atau dekat sekolah.

Menurut dia, jika Pusling itu hanya ada di pusat perbelanjaan dan pertkantoran tentunya tak efektif serta kurang mendapatkan apreasi dari masyarakat atau warga yang sangat membutuhkan buku bacaan. Lainnya, jika ada di sudut desa atau perbatasan yang masih jarang toko buku atau pelajaran.

Aldiansyah, petugas Pusling pusat perbelanjaan Serpong, mengakui bahwa Pusling ini beroperasi hanya sekitar empat jam mulai pukul 10:00 hingga Pk. 14:00. Setiap hari berkeliling di sekolah, pusat belanja, taman bermain, perumahan dan taman kota.

“Jadwalnya kita atur, tidak setiap hari juga kita ke sekolah. Kami pun beroperasi di pusat perbelanjaan,” ungkapnya sambil menambahkan di pusat perbelanjaan dikunjungi sekira 20 hingga 30 warga.

Umumnya, pengunjung mencari bahan buku pengetahuan umum maupun buku-buku peluang usaha. “Tergantung kita berhentinya di mana. Kalau di sekolah dan taman bermain, banyak diminati anak-anak,” ujarnya.

“Fasilitas di mobil Pusling ini antara lain audio visual, laptop, dan 300 buku bacaan dengan berbagai jenis judul dan memberikan edukasi melalui video yang kita siapkan,” katanya.

Sumber: poskota.co.id

Leave a comment

Filed under Perpustakaan, Pustaka

Ketika Buku Menjadi Candu

Penulis sempat terheran-heran selama ‘mengabdi’ di perpustakaan Pesantren Annuqayah, Sumenep. Keheranan tersebut didasarkan atas tidak sedikitnya santri berbetah diri menelaah tulisan dari lembaran-lembaran buku secara rutin setiap kali jam buka, mereka berdesakan untuk “bercengkerama” dengan buku; menelusuri lorong-lorong pengetahuan tanpa tepi.

Kesabaran membaca pemuda masa kini, khususnya di Madura, sungguh amat memilukan, kalau tidak mengenaskan. Rata-rata pemuda Madura lebih senang ngobrol ngalor ngidul yang tentu tidak mencerahkan daripada membaca buku secara tekun. Apalagi menelaahnya secara mendalam. Sebagai konsekuensi logis dari kebiasaan destrukif tersebut ialah cakrawala pengetahuan mereka menjadi dangkal, sehingga berdampak buruk terhadap masa depan mereka.

Padahal, harus diakui, sumber utama dari ilmu pengetahuan ialah membaca. Bisa disaksikan bagaimana kehebatan Gus Dur yang mampu menembus batas-batas kehidupan sehingga beliau dikenal oleh manusia seantero dunia. Konon, musibah yang menimpanya berupa kurang maksimalnya dalam melihat, tiada lain karena “keterlaluannya” dalam membaca. Bahkan, ketika beliau hampir menghembuskan napas terakhirnya, secara tak terduga ternyata beliau masih minta bantuan agar bisa membaca.

Gus Dur adalah salah satu sosok manusia hebat yang sama sekali tidak melewatkan waktunya tanpa membaca. Dialah santri senior yang betul-betul menghayati ayat Al Qur’an yang turun pertama kali yang muaranya melahirkan konsep iqra’ dalam sejarah kehidupan manusia. Meskipun banyak kalangan yang menganggapnya sebagai orang yang sering menimbulkan kontroversi, tapi dalam persoalan membaca, siapa yang tidak mengenal kegigihannya.

Selain beliau, masih banyak intelektual Indonesia yang menilai buku sebagai sesuatu yang amat berharga. Taruhlah misal KH Zainal Arifin Thaha. Beliau dikenal sebagai “Gus Dur”-nya masyarakat Jogja. Julukan tersebut, kata teman-teman santri yang hijrah ke Jogja, tidak lepas dari ghirah bacanya yang hampir menyamai Gus Dur. Bahkan, beliaulah yang menggugah banyak pemuda-pemuda Jogja untuk tabah dalam mengarungi lautan ilmu dalam deretan kata-kata. Beliau pulalah yang menggagas dibangunnya penerbit Kutub. Penerbit Kutub yang dinakhkodai oleh Gus Zainal ini hingga kini mampu menjadi wadah kreativitas pemuda-pemuda Jogja yang memang semangat dalam membaca, berdiskusi, dan menulis.

Sayang sekali, keduanya telah menghadap ke haribaan Tuhan. Namun begitu, nilai-nilai keseriusan dalam menimba ilmu jelas harus dijadikan rujukan agar tidak menyesal di kemudian hari. Mulai detik ini, kita harus percaya bahwa membaca itu banyak hikmahnya. Janganlah kita hanya mengandalkan kemampuan intuisi yang belum tentu sudah terasah secara maksimal. Kalau ada buku atau kitab yang dapat mengantarkan kita pada pencerahan, mengapa harus repot-repot melakukan kontemplasi. Apalagi kata Muhidin M Dahlan, kontemplasi (perenungan) yang tidak dilakukan secara mendalam hanya akan berujung pada kesia-siaan.

Tapi penulis cukup optimistis ketika mengingat kembali bagaimana sepak terjang para santri dalam membaca tatkala ada di perpustakaan pesantren. Setidaknya hal itu menjadi bukti awal bahwa pesantren sangat berperan penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Lebih-lebih, bila didukung dengan kepedulian kiai sebagai pengendali utama bergulirnya kehidupan di pesantren.

Ppenulis pun teringat dengan almarhum KH Ishomuddin AS. Di Annuqayah, beliau dikenal sebagai kiai yang semangat membacanya menggebu-gebu. Bukti yang dapat diangkat ke permukaan ialah adanya tendensi kuat dari kebiasaan beliau untuk tidak meluangkan waktunya tanpa aktivitas membaca. Beliau tidak pilih-pilih dalam membaca. Di samping ahli hadis dan tafsir, beliau juga dikenal sebagai kiai yang mempunyai wawasan luas dalam hal keberilmuan. Setiap hari beliau membaca koran, buku, dan kitab-kitab. Perpustakaan yang dikelola pesantrennya menjadi perpustakaan terbaik dan terbanyak bukunya dari 16 perpustakaan yang tersebar di bumi Annuqayah.

Wajar bila di pesantren yang dinaunginya (PP Annuqayah Lubangsa Selatan), bermunculan banyak penulis yang mampu bersaing dengan penulis-penulis kenamaan di Nusantara. Sebutlah Suhaidi RB, Zaiturrahim, Ahmad Khotib, Syafiqurrahman, Paisun, A Qusyairi Nurullah, Syamsuni, Ahmad Fawaid, Kayyis, Fendi, dan masih banyak lagi. Bahkan, Muhammad al-Fayyad yang kini dikenal sebagai kritikus sastra terkemuka di Asia, adalah jebolan dari pesantren yang dihuni santri lebih dari seribu tersebut.

Mereka adalah penulis-penulis andal yang tak jarang jebol di pentas nasional dalam ajang lomba menulis. Darmaningtyas, pengamat pendidikan di Indonesia, ketika berkunjung ke Annuqayah sempat terkagum-kagum atas prestasi dalam bidang kepenulisan pemuda-pemuda Madura yang pastinya dilakoni oleh para insan akademis pesantren. Ternyata, kunci keberhasilan mereka hanya satu, yaitu “menenggelamkan” diri dalam lautan ilmu melalui bacaan yang mendalam. Wallahu a’lam.

Sumber: www.surya.co.id

Leave a comment

Filed under Pemustaka, Perpustakaan, Pustaka, Pustakawan

Denda Perpustakaan Rp26 Juta Dihibahkan ke Panti Asuhan

JAKARTA - Kebayang enggak, uang denda keterlambatan pengembalian buku di perpustakaan kampus bisa mencapai puluhan juta rupiah? Uniknya, uang tersebut digunakan untuk membantu panti asuhan dan berbagai kegiatan sosial lainnya.

Sepanjang 2011, perpustakaan Prasetiya Mulya Business School (PMBS) mengumpulkan uang denda peminjaman buku mahasiswanya lebih dari Rp26 juta.

Kepala Perpustakaan PMBS Nico Fernando Samad menjelaskan, dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli buku-buku baru bertema pengetahuan umum bagi anak usia 6-12 tahun. Buku-buku yang terkumpul, kata Nico, lalu dihibahkan kepada SDN Tegal, Bumi Serpong Damai dan Panti Asuhan Mekar Lestari.

“Kami harap, pada tahun-tahun mendatang Perpustakaan Prasetiya Mulya dapat menyalurkan bahan bacaan yang bermanfaat ke sekolah dan panti asuhan sekitar kampus,” ujar Nico seperti dilansir keterangan tertulisnya kepada okezone, Kamis (22/12/2011).

Nico mengimbuhkan, pihaknya akan konsisten untuk terus menyalurkan uang denda perpustakaan dalam program hibah buku ini. Tidak hanya itu, mereka juga akan berinovasi dalam program pengelolaan perpustakaan di tahun depan.

Salah satu program yang mereka rencanakan adalah menggelar focus group discussion (FGD) tentang ‘Future Library Road Map’.

“FGD ini akan dibagi ke dalam dua tahap dan mengundang pelaku perpustakaan, yakni pustakawan dan pengguna, untuk berdiskusi tentang perpustakaan masa depan dari sudut pandang masing-masing pihak,” Nico mengimbuhkan.

Perpustakaan PMBS terpilih menjadi salah satu perpustakaan yang akan dikunjungi oleh Klub Perpustakaan Indonesia (KPI) awal tahun depan. KPI,  yang terdiri dari 50 wakil perpustakaan di Indonesia, juga akan mengunjungi Perpustakaan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono.

Sumber: okezone.com

Leave a comment

Filed under Pemustaka, Perpustakaan, Pustakawan

Heryawan Hibahkan Sarana Perpustakaan ke 1.100 Desa

JAKARTA, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menghibahkan Sarana Perpustakaan dan Kearsipan Pojok Informasi Pembangunan Jawa Barat kepada 1.100 desa, serta bantuan stimulan buku kepada 62 Perpustakaan Pondok Pesantren dan 326 Perpustakaan Desa.

Penyerahan secara simbolis dilakukan di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Kota Bandung, Kamis (22/12/2011) petang.

Harapannya, sarana terbaru itu mampu mendongkrak indeks membaca masyarakat Indonesia yang kini masih berkisar 0.001 yang berarti 1000 warga hanya membaca 1 buku.

Indeks membaca ini jauh di bawah penduduk Singapura yang sudah 0,55 yang berarti 1 buku dibaca 5 orang.

“Adanya buku dan perpustakaan menjadi ciri sebuah kemajuan peradaban. Dimana dengan membaca buku berarti membuka jendela pengetahuan dan pintu peradaban sebuah bangsa. Dengan kata lain, tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliknya,” kata Heryawan saat memberikan sambutan di hadapan ribuan Kepala Desa dan Lurah yang berasal dari 26 Kabupaten/Kota di Gedung Sabuga, sebagiamana di kutip Humas Pemprov Jawa Barat dalam siaran persnya, Kamis petang.

“Untuk itu membiasakan membaca buku dan berkunjung ke perpustakaan harus menjadi bagian budaya dan gaya hidup sebuah masyarakat sebagai cermin kemajuan,” tandasnya.

Sejalan dengan itu, Heryawan menyatakan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan menjadi landasan bagi pengembangan dan penguatan pemberdayaan perpustakaan.

Dengan Perda tersebut diharapkan mampu mendorong kualitas pelayanan perpustakaan kepada masyarakat, pengelolaan perpustakaan secara moderen sebagai sumber informasi dan rujukan penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Sekaligus mendorong pembudayaan gemar membaca dan memperluas wawasan serta pengetahuan guna mencerdaskan kehidupan masyarakat dan mewujudkan perpustakaan bertaraf internasional,” tuturnya.

Sumber: kompas.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan, Pustaka

Kampanye “ibuku perpustakaanku” warnai Hari Ibu

Kulon Progo, Kampanye “Ibuku Perpustakaanku” mewarnai peringatan Hari Ibu 22 Desember di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis.

Kepala Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Kulon Progo Agung Kurniawan dalam peringatan Hari Ibu yang diwarnai kampanye “Ibuku Perpustakaanku” di Perpustakaan Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, itu mengajak kaum wanita terutama kalangan ibu di perdesaan ikut membudayakan gemar membaca di masyarakat terutama pada anak.

“Seorang ibu memiliki peran utama dan paling penting dalam mendidik anaknya, termasuk membudayakan gemar membaca di masyarakat, khususnya lingkungan keluarga sendiri, terutama anak.

Untuk itu, kata dia, kaum wanita harus ambil bagian dalam kampanye “Ibuku Perpustakaanku” di kalangan generasi muda. “Sebab, dengan membaca, ilmu pengetahuan akan bertambah dan berkembang, sekaligus mencerdaskan masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan pihaknya mendukung kampanye “Ibuku Perpustakaanku” yang dicetuskan Perpustakaan Desa Banjararum, karena ibu memiliki peran sebagai perpustakaan bagi anak.

Menurut dia, seorang ibu selalu mendampingi anaknya sejak kecil hingga tumbuh menjadi remaja dan dewasa.

“Ibu pula yang mengajarkan anak dalam segala perbuatan, seperti berbicara, membaca, dan melakukan sesuatu. Sesuatu yang diajarkan oleh seorang ibu akan terngiang-ngiang dalam pikiran anak,” katanya.

Dari peran penting ibu seperti itu, maka pihaknya mengingatkan para ibu untuk mengajarkan dan menganjurkan anaknya membaca buku.

Ia yakin jika anak dibiasakan membaca sejak kecil oleh ibunya, maka budaya membaca akan tertanam pada diri anak, dan berlanjut di sepanjang hidupnya.

Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan BPAD Provinsi DIY Heru Purwanto mengatakan orang tua harus mengajak dan menggerakkan anaknya untuk gemar membaca buku.

Sebab, kata dia, saat ini anak remaja justru gemar bermain telepon selular (ponsel). “Daripada bermain ponsel atau menonton televisi, anak lebih baik diarahkan untuk membaca buku. Upaya ini harus dibiasakan pada diri anak sejak kecil,” katanya.

Sumber: www.antaranews.com

1 Comment

Filed under Pemustaka, Perpustakaan, Pustaka